created by Heri Purwanto. Powered by Blogger.
Selamat Datang di Blog Kreatifitas Elektronika, Media Pembelajaran Elektronika Dan Science

Saran,kritik dan masukan selalu kami harapakan demi kebaikan dan kebermanfaatan dari blog ini. Saran dapat disampaikan pada buku tamu, Kotak Saran atau Email di her_iwan8b1@yahoo.com, FB: Heri Purwanto Trimakasih.

Sunday, July 14, 2013

Transistor

Posted by heri On 7:01 AM No comments






TRANSISTOR

STANDAR KOMPETENSI
Kemampuan menyerap pengetahuan dan mengkomunikasikan  serta menerapkan hal-hal yang berkaitan dengan arus listrik dalam kehidupan sehari-hari
KOMPETENSI DASAR
Kemampuan mengidentifikasi komponen elektronika dan kegunaanya
INDIKATOR PEMBELAJARAN
1. Menjelaskan nama-nama komponen elektronika
2. Mengidentifikasi komponen elektronika
3. Menganalisis satuan ukuran yang terdapat pada komponen elektronika
4. Mendeskripsikan pemanfaatan komponen dalam praktik
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Peserta didik dapat menyebutkan macam-macam Transistor, satuan dan fungsinya
2. Peserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja Transistor
3. Pesrta didik dapat menyebutkan bahan-bahan yang digunakan pembuatan Transistor
4. Peserta Didik dapat menggambarkan simbol Transistor
5. Peserta didik dapat menguji kondisi Transistor dengan alat ukur yang tepat.
6. Peserta didik dapat mengetahui aplikasi Transistor dalam rangkaian

TRANSISTOR
A. Pengertian Transistor
Pengertian Transistor adalah sebagai piranti komponen elektronika yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai tiga elektroda (triode) yaitu dasar (basis), pengumpul (kolektor) dan pemancar (emitor).
Transistor berasal dari bahasa transfer yang artinya pemindahan dan resistor yang berarti pengambat. Jadi pengertian transistor dapat di kategorikan sebagai pemindahan atau peralihan bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada suhu tertentu.


Transistor pertama kali di temukan oleh William Shockley, John Barden, dan W. H Brattain pada tahun 1948. Dan mulai di pakai dalam praktek pada tahun 1958.
Transistor memiliki 3 kaki yaitu :
1.EMITOR (E)
2.BASIS (B)
3.COLECTOR (C)
Simbol Transistor

B .Fungsi Transistor
1.Sebagai penguat arus, tegangan dan daya (AC dan DC)
2. Seabagai Relay

sumber animasi : http://www.bannerengineering.com/training/images/SS_RELAY_F.swf
2.Sebagai penyearah
3.Sebagai mixer
4.Sebagai osilator
5.Sebagai switch


sumber animasi : http://c8051.leongkj.net/learning_object/general_transistor_as_switch.swf
C. Jenis-jenis Transistor
1.Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide
2.Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface Mount, IC, dan lain-lain
3.Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET, VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor yaitu IC (Integrated Circuit) dan lain-lain.
4.Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel
5.Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power
6.Maximum frekwensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF transistor, Microwave, dan lain-lain
7.Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi, dan lain-lain 
D. Prinsip Kerja Transistor
untuk memudahkan anda mengerti ada baiknya terlebih dahulu anda membaca postingan mengenai cara kerja Dioda

Gambar diatas merupakan bahan P-N-P yang disusun sehingga membentuk transistor, bagaimana arus dapat mengalir dari Emitter menuju Collector?

pada gambar diatas kita memberi tegangan pada kaki emitter dan basis, pada kaki emitter (Tipe-P kiri) sekarang lebih positif sedangkan pada basis (tipe-N) bersifat negatif, oleh karena itu hole/ mayoritas carrier pada tipe P ditarik ke arah tipe N, dikarenakan tipe kaki basis lebih negatif dan sebaliknya elektron di tipe-N ditarik kearah tipe P, oleh sebab itu terjadilah aliran arus listrik yaitu aliran hole dari P ke N (Forward bias), dan jika kita perhatikan daerah deplesi menyempit sehingga mayoritas carrier dapat mengalir dengan mudah
  

Selanjutnya marilah kita perhatikan gambar disamping ini pada tipe N dan tipe P (kanan) diberi tegangan sehingga kaki Basis positif sedangkan kaki Collector negatif, keadaan tersebut menyebabkan mayoritas carrier (elektron) tidak dapat mengalir dikarenakan daerah deplesi yang melebar sehingga menghalangi carrier mayoritas (elektron) , karena kaki Collector bersifat negatif maka hole (minoritas carrier) pada tipe N akan ditarik ke daerah P sehingga menyebabkan aliran minoritas carrier (hole) dari N ke P kanan. Yang menjadi masalah adalah minoritas carrier pada tipe-N terlalu sedikit untuk menyebabkan aliran kontiniu, untuk itu maka keadaan 1 dan 2 dikombinasikan dan menjadi gambar dibawah ini
Minoritas carrier (hole) pada tipe N disuplai oleh mayoritas carrier (hole) pada tipe P kiri, sehingga terjadilah aliran arus dari emiiter menuju Collector, tapi perlu kita perhatikan bahwa ada juga sedikit arus yang mengalir menuju kaki basis yang disebut arus basis.
Oleh karena itu dapat dituliskan
IE=IB+IC


Analogi
Bagaimana transistor bekerja
Arus akan mengalir dari colector menuju Emitor apabila kaki basis diberikan arus atau tegangan. Sedikit saja arus atau tegangan kita berikan ke kaki basis, maka arus yang besar akan mengalir dari Colector ke Emitor. Perbandingan arus colektor yang mengalir ke Emitor dan arus basis yang diberikan dinamakan penguatan atau Gain.
Variasi arus basis yang diberikan juga akan mengakibatkan variasi besarnya arus yang mengalir di colector ke Emitor. Prinsip inilah yang digunakan untuk membentuk sebuah Amplifier yang handal.
Arus kecil dari suara penyanyi yang masuk ke microfon berubah menjadi suara yang besar menggelegar di sepeaker panggung, inilah contoh penggunaanya.
Analogi Transistor dengan tandon air, pipa paralon, kran dan kolam ikan


Gb Pak de lagi buka kran ( model kran tahun 2024)
Ibaratkan kita akan mengisi kolam ikan dengan air dari tandon air. Air akan kita alirkan dari tandon menuju kolam melalui pipa dan kran air.Tandon air adalah collector, kran air adalah kaki basis, dan kolam adalah kaki emitor. Sedang pipa paralon sebagai apanya?…..tepat , sebagai kawat2 penghantar di 3 kaki transistor.
Air akan mengalir dari tandon ke kolam ketika kita membuka kran. Membuka kran dianalogikan dengan memberi tegangan/arus ke basis. Semakin besar kita membuka kran akan semakin deras air mengalir dari tandon menuju kolam. Jika kran dibuka penuh maka air mengalir dengan kekuatan penuh, sedang kran kita tutup penuh air akan berhenti total /tersumbat. Variasi besarnya membuka kran akan menghasilkan aliran yg bervariasi seirama dengan irama bukaan kran.
Demikian juga varasi tegangan/arus di kaki basis akan menghasilkan variasi arus yang mengalir dari calector ke emitor.
Analogi 2
Transistor
Cara (Prinsip) kerja transistor bisa digambarkan sebagai pengaturan aliran air sbb:










keran air perumpamaan sebuah Transistor
Dari gambar diatas kita bisa lihat :
•Sumber air dari titik C akan mengalir ke titik E  jika dari B diberi sedikit aliran air untuk membuka keran.
•Aliran air dari C ke E merupakan kelipatan aliran air B misalkan saja aliran C ke E  10 x lipat aliran B . misalnya dari B kita aliri 1 liter/detik maka dari C ke E akan mengalir 10 liter/detik.jika kita aliri air dari B sebesar 100 liter/detik maka dari ke C ke E akan mengalir sebesar 1000 liter /detik. begitu seterusnya.
•Aliran C ke E ada batas masimumnya misal 10 000 liter /detik.
•Aliran C ke E akan  ”OFF” jika tdk ada aliran B yg membuka keran (kecuali ada kebocoran di b).
•Pada  saat aliran C ke E  maksimum (10000 liter /detik)  ini disebut “ON”  atau saturasi.

E.Cara Mengetahui Kaki Transistor
Transistor memiliki tiga buah kaki, yaitu Basis, Colector dan Emiter. Ketiga kaki tersebut dapat ditentukan menggunakan Ohmmeter/Multimeter.










1.Mencari Kaki Basis
Atur multimeter pada pengukuran ohmmeter X100 atau X10
Lakukan pengukuran seperti gambar dibawah ini.
 
Gambar Cara menentukan kaki basis transistor
Perhatikan penunjukkan pergerakan jarum. Apabila jarum bergerak ke kanan dengan posisi probe yang satu tetap pada kaki 1 dan probe lainnya pada kaki 2 dan kaki 3 berarti kaki 1 adalah Basis transistor. Jika probe positif yang berada pada kaki 1 berarti transistor tersebut berjenis PNP, sebaliknya jika probe negatif berada pada kaki 1 berarti transistor tersebut berjenis NPN
2.Mencari Kaki Colector dan Emitter
1.Atur multimeter pada skala X 1K atau X 10K
2.Misal: transistor berjenis NPN
3.Lakukan pengukuran seperti gambar dibawah ini.
4.Perhatikan penunjukkan jarum, apabila jarum bergerak ke kanan maka kaki 2 (pada probe positif) adalah emitter dan kaki 3 (pada posisi probe negatif) adalah Colector (Gbr 2a dan 2b). Atau Jika dipasang kebalikkannya (probe positif pada kaki 3 dan probe negatif pada kaki 2) dan jarum tidak bergerak, maka kaki 3 adalah emitter dan kaki 2 adalah Colector (Gbr 2c). Untuk transistor jenis PNP dapat dilakukan seperti dibawah ini (gambar 3) dan hasilnya kebalikan dari transistor jenis NPN (Gbr 3a dan 3b).

F.Cara mengetest Kondisi Transistor
Menguji Transistor Jenis PNP dan NPN Menggunakan Multimeter
A.TRANSISTOR PNP
Langkah-langkah yang perlu kita perhatikan untuk menguji transistor jenis PNP menggunakan multimeter adalah sebagai berikut :
1.Putarlah saklar multimeter pada Ohm meter baik 1 x, 10 x, atau 1K
2.Pencolok yang merah ditempelkan pada kaki basis, sedangkan pencolok hitam pada kaki emitor. Bila jarum multimeter bergerak itu berarti transitor baik
3.Pencolok hitam dipindahkan pada kaki kolektor, bila jarum mulitmeter bergerak itu berarti transitor baik
B.TRANSISTOR NPN
Langkah-langkah yang perlu kita perhatikan untuk menguji transistor jenis NPN menggunakan multimeter adalah sebagai berikut :
1.Putarlah saklar multimeter pada Ohm meter baik 1 x, 10 x, atau 1K
2.Pencolok yang hitam ditempelkan pada kaki basis, sedangkan pencolok merah pada kaki emitor. Bila jarum multimeter bergerak itu berarti transitor baik
3.Pencolok merah dipindahkan pada kaki kolektor, bila jarum mulitmeter bergerak itu berarti transitor baik
O.Applikasi Transistor
1.Transistor sebagai penguat
2.Transistor sebagai saklar
3.Transistor sebagai timer
   
 



Daftar Pustaka
1.http://kit-electronic.blogspot.com/2012/11/fungsi-transistor-dan-cara-kerjanya.htmls
2.http://ranieoktasari101012.blogspot.com/2012/11/pengertian-transistor-komponen-dasar.html
3.http://www.meriwardana.com/2011/11/prinsip-kerja-transistor-transistor.html
4.http://kumpulanrangkaianelektronik.blogspot.com/search/label/Transistor
5.http://komponenelektronika.org/transistor-sebagai-saklar.htm
6.http://benbenquantum.blogspot.com/2012/08/prinsip-kerja-transistor-cara-kerja.html
7.http://nolsatunolsatu.wordpress.com/2011/01/03/prinsip-kerja-transistor/
8.http://bookmarks-maulid.blogspot.com/2013/02/cara-prinsip-kerja-transistor.html
9.http://www.meriwardanaku.com/2011/11/rangkaian-transistor-sebagai-timer.html
10. Candra,Arifianto.2010.Jago Elektronika Rangkain sistem otomatis. Elek media Komputindo
11. Syarifudin Uyuk.2010.Elektronika 1. Yudhistra
12. MGMP Klaten. 2010.LKS Elektronika 1,2,3.Klaten. Sinar Mandiri

SOAL & PEMBAHASANYA

1.Sebutkan nama ketiga kaki dari transistor
2.Jelaskan kegunaan dari transistor
3.Sebutkan bahan-bahan yang termasuk semikonduktor
4.Jelaskan Langkah-langkah menguji kondisi transistor jenis PNP
5.sebutkan jenis-jenis transistor berdasarkan polaritasnya


Pembahasan
Jawaban No 1
Pembahasan
Transistor memiliki 3 kaki yaitu :
1.EMITOR (E)
2.BASIS (B)
3.COLECTOR (C)

Jawaban No 2
Pembahasan
1.Sebagai penguat arus, tegangan dan daya (AC dan DC)
2.Sebagai penyearah
3.Sebagai mixer
4.Sebagai osilator
5.Sebagai switch
3.Sebutkan jenis-jenis dari transistor

Jawaban No 3
Bahan semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide

Jawaban No 4
Menguji Transistor Jenis PNP
Langkah-langkah yang perlu kita perhatikan untuk menguji transistor jenis PNP menggunakan multimeter adalah sebagai berikut :
1.Putarlah saklar multimeter pada Ohm meter baik 1 x, 10 x, atau 1K
2.Pencolok yang merah ditempelkan pada kaki basis, sedangkan pencolok hitam pada kaki emitor. Bila jarum multimeter bergerak itu berarti transitor baik
3.Pencolok hitam dipindahkan pada kaki kolektor, bila jarum mulitmeter bergerak itu berarti transitor baik

Jawaban No 5
Jenis transistor berdasarkan polaritasnya :
Transistor NPN atau N-channel,dan transistor PNP atau P-channelbr />


Saturday, July 13, 2013

Transformator

Posted by heri On 3:22 AM No comments






TRANSFORMATOR


STANDAR KOMPETENSI
Kemampuan menyerap pengetahuan dan mengkomunikasikan  serta menerapkan hal-hal yang berkaitan dengan arus listrik dalam kehidupan sehari-hari
KOMPETENSI DASAR
Kemampuan mengidentifikasi komponen elektronika dan kegunaanya
INDIKATOR PEMBELAJARAN
1.Menjelaskan nama-nama komponen elektronika
2.Mengidentifikasi komponen elektronika
3.Menganalisis satuan ukuran yang terdapat pada komponen elektronika
4.Mendeskripsikan pemanfaatan komponen dalam praktik
TUJUAN PEMBELAJARAN
1.Peserta didik dapat menyebutkan jenis-jenis trafo, satuan dan fungsinya
2.Peserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja trafo
3.Peserta Didik dapat menggambarkan simbol trafo
4.Peserta Didik dapat menghitung jumlah lilitan, tegangan ataupun arus pada trafo
5.Peserta didik dapat menguji kondisi resistor dengan alat ukur yang tepat.
TRANSFORMATOR

A.Pengertian
Transformator atau trafo adalah suatu peralatan listrik yang dapat memindahkan energi listrik atau memindahkan dan mengubah energi listrik bolak-balik dari satu level ke level tegangan yang lain melalui kinerja satu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.



sumber animasi : http://www.mediabali.net/listrik_dinamis/trafo.swf

Ada dua hal perlu dipahami untuk transformator ini, yaitu:
1.Transformator hanya digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan arus bolak-balik (AC) dan tidak untuk arus searah (DC).
2.Transformator tidak dapat memperbesar daya listrik yaitu tidak dapat memperbesar banyaknya daya yang masuk ke dalam transformator tersebut.
B.Kegunaan
Kegunaan dari Transformator (trafo) secara umum  adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan bolak-balik (AC).
C.Prinsip kerja
Lilitan primer trafo terhubung dengan input listrik AC. Adanya lilitan primer pada besi lunak ini menyebabkan tejadinya induksi elektromagnetik, yang merupakan peristiwa timbulnya ggl akibat perubahan medan megnetik. ggl yang ditimbulkan pada proses induksi ini berada pada lilitan sekunder, yang siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik alat-alat elektronika. Besarnya tegangan listrik pada ujung-ujung kumparan sekunder/lilitan sekunder dapat ditentukan dengan mengatur perbandingan jumlah lilitan sekunder terhadap jumlah lilitan primer.











D.Jenis-Jenis trafo
1. Jenis transformator berdasarkan fungsinya
a.  Trafo step-up
Trafo ini digunakan untuk menaikkan tegangan.
Ciri2nya: Lilitan sekunder (lilitan yang ada pada output/keluaran trafo) lebih banyak dari pada lilitan primer (lilitan yang ada pada input/masukan trafo).Tegangan sekunder lebih besar dari tegangan primer.












b.Trafo step-down
Trafo step-down adalah jenis trafo yang paling sering digunakan pada catu daya karena berfungsi untuk menurunkan tegangan .Ciri2nya: Lilitan sekunder lebih sedikit dari lilitan primer
 Tegangan sekunder lebih kecil dari tegangan primer.












 2.Jenis transformator berdasarkan perbandingan antara jumlah lilitan primer dan skunder
a.Trafo step-up
Yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan sekunder lebih banyak daripada jumlah lilitan primer (Ns > Np).
b.Trafo step-down
Yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np > Ns).
3.Jenis trafo catu daya
a.Trafo engkel
Trafo yang biasa digunakan pada trafo pada umumnya. Trafo ini hanya punya besar keluaran tegangan yang hanya satu macam ditambah tegangan nol.
Pada dasarnya trafo biasa (engkel) akan menghasilkan tegangan keluaran di dua titik yaitu pada ujung-ujung kumparan sekundernya.
 b.Trafo CT
Adalah trafo yang mempunyai besar keluaran yang bejumlah dua atau bepasangan (6 dgn 6) selain itu trafo ini punya ujung CT. CT ini digunakan sebagai arus negatif. Selain itu trafo CT keluarannya dapat di pararel (keluarannya dapat digabungkan tapi syaratnya harus pasangannya yaitu 6 dengan 6 atau 12 dengan 12). Inti besi pada trafo sengaja dibuat berkeping-keping, karena dengan bentuk kepingan terdapat rongga udara, ini juga digunakan sebagai pendingin trafo. Panas ini terjadi karena arus pada trafo yang besar dan menyebabkan adanya panas pad trafo.









4.Jenis transformator berdasarkan inti
a.Trafo tipe shell
Dimana kedudukan kumparan dikelilingi inti.










 b.Trafo tipe inti
Dimana kedudukan kumparan mengelilingi inti.
5.Jenis transformator berdasarkan kegunaan
a.Trafo tenaga
Digunakan untuk suatu sistem transmisi dan distribusi. Trato tenaga ialah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya (mentransformasikan tegangan).
Dalam operasi umumnya, trafo-trato tenaga ditanahkan pada titik netralnya sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan/proteksi











b.Ototransformator
Suatu transformator fasa tunggal dengan perbandingan lilitan 3:1 (ab:cd) akan menjadi ototransformator apabila sebagian kumparan primer merupakan bagian dari kumparan sekundernya.









6.Jenis transformator berdasarkan jenis fasa tegangan
a.Trafo satu fasa
Prinsip kerjanya apabila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan (sumber), maka akan mengalir arus bolak balik I1 pada kumparan tersebut. Oleh karena kumparan menpunyai inti, arus I1, menimbulkan fluks magnet yang juga berubah – ubah, pada intinya. Akibat adanya fluks magnet yang berubah – ubah, pada kumparan primer akan timbul GGL induksi ep.
b.Trafo tiga fasa
Transformator tiga fasa digunakan karena pertimbangan ekonomi. Dari pembahasan berikut ini akan terlihat bahwa pemakaian inti besi pada transformator tiga fasa akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian tiga buah transformator fasa tunggal. Trafo tiga fasa bisa dihubungkan bintang dan segitiga
E.Analisa Trafo/ Rumus Trafo
Perhitungan Trafo
Trafo yang tersusun dari kumparan primer, kumparan sekunder, dan inti besi bekerja berdasarkan hukum Ampere dan hukum Faraday dimana arus listrik berubah menjadi medan magnet dan sebaliknya medan magnet berubah menjadi arus listrik. Apabila salah satu kumparan pada transformator diberi arus bolak-balik (AC) maka medan magnet akan berubah dan menimbulkan induksi pada kumparan sisi yang lain. Perubahan medan magnet tersebut akan mengakibatkan perbedaan potensial (tegangan).
Berikut adalah beberapa rumus dasar untuk menentukan jumlah kumparan primer dan kumparan sekunder agar menghasilkan tegangan output rendah dengan arus besar.


sumber animasi : http://www.atom.rmutphysics.com/charud/oldnews/0/286/15/21/transformer/transformer.swf
Np / Ns = Vp / Vs = Is / Ip
Keterangan :
Np = Jumlah kumparan primer
Ns = Jumlah kumparan sekunder
Vp = Tegangan input primer (Volt)
Vs = Tegangan output sekunder (Volt)
Ip = Arus input primer (Ampere)
Is = Arus output sekunder (Ampere)
Dari rumus di atas, arus berbanding terbalik dengan kumparan dan tegangan.

Pp = Ps
Vp x Ip = Vs x Is

Pp = Daya Primer (Watt)
Ps = Daya Sekunder (Watt)
Vp = Tegangan Primer (Volt)
Vs = Tegangan Sekunder (Volt)
Ip = Arus Sekunder (Ampere)
Is = Arus Sekunder (Ampere)

Contoh 1
Jika sebuah trafo memiliki kumparan primer (Np) 2200, tegangan input (Vp) 220V, dan tegangan output sekunder (Vs) yang diinginkan adalah 10V, maka jumlah kumparan sekunder adalah......
Np / Ns = Vp / Vs
2200 / Ns = 220 / 10
Ns = 2200 / (220 /10 )
Ns = 2200 / 22
Ns = 100
Jadi untuk menghasilkan tegangan output (Vs) sekunder 10V, kumparan sekunder (Ns) harus 100 lilitan

Contoh 2
Jika sebuah trafo memiliki kumparan primer (Np) 2000 dan kumparan sekunder (Ns) 500, berapakah arus primer dan arus sekunder jika digunakan untuk menyalakan sebuah pemanas 25 Volt 50 Watt.
Pp = Ps
Vp x Ip = Vs x Is
Is = Ps / Vs
Is = 50 / 25
Is = 2
Jadi arus sekunder (Is) trafo tersebut adalah 1 Ampere
Np / Ns = Is / Ip
Np / Ns = (Ps / Vs) / Ip
2000 / 500 = (50 / 25) / Ip
4 = 2 / Ip
Ip = 2 / 4
Ip = 0.5
atau
Np / Ns = Is / Ip
2000 / 500 = 2 / Ip
4 = 2 / Ip
Ip = 2 /4
Ip = 0.5
Jadi Arus Primer (Ip) adalah 0.5 Ampere

F. Mengetes Trafo
Langkah-langkah:
1.Putar multimeter saklar pada posisi Ohm 1x.
2.Kalibasi.
3.Hubungkan colok (-) dengan salah satu kaki di gulungan primer, colok (+) pada kaki yang lain di gulungan primer. Bila jarum bergerak maka trafo dalam keadaan baik.
4.Pada gulungan sekunder lakukan hal yang sama. Apabila jarum multimeter bergerak-gerak maka trafo dalam keadaan baik. Selisih nilai sama dengan selisih tegangan yang tertera pada trafo.
5.Letakkan colok (-) atau colok (+) ke salah satu kaki di gulungan primer kemudian colok yang lain ke gulungan sekunder. Apabila jarum tidak bergerak maka trafo dalam keadaan baik, menandakan tidak adanya korsleting gulungan primer dengan sekunder dengan body trafo. Lakukan hal sebaliknya.
6.Langkah terakhir, letakkan colok (-) atau colok (+) ke salah satu kaki di gulungan primer atau sekunder kemudian colok yang lain ke plat pengikat gulungan yang berada di tengah. Apabila jarum tidak bergerak maka trafo dalam keadaan baik, menandakan tidak adanya korsleting gulungan dengan body trafo.

G.Aplikasi Trafo
1.Adaptor/ power suply
2.Distribusi tenaga listrik
3.Rangkain elektronika lain

Daftar Pustaka
1.http://budisma.web.id
2.http://www.custompowertransformer.com
3.http://www.blueraja.com
4.http://www.electronics-tutorials.ws
5.http://alvianelektro.blogspot.com
6.http://en.wikipedia.org
7.http://www.electronicrepairguide.com
8.http://creebob.blogspot.com
9.http://ehendra.wordpress.com
10. Candra,Arifianto.2010.Jago Elektronika Rangkain sistem otomatis. Elek media Komputindo
11. Syarifudin Uyuk.2010.Elektronika 1. Yudhistra
12. MGMP Klaten. 2010.LKS Elektronika 1,2,3.Klaten. Sinar Mandiri

SOAL & PEMBAHASAN

1.Jelaskan kegunaan dari komponen elektronika transformator
2.Sebutkan jenis-jenis transformator brdasarkan berdasarkan fungsinya
3.Sebutkan dua jenis trafo catu daya
4.Jika sebuah trafo memiliki kumparan primer (Np) 4400, tegangan input (Vp) 220V, dan tegangan output sekunder (Vs) yang diinginkan adalah 10V, maka jumlah kumparan sekunder adalah......
5.Jika sebuah trafo memiliki kumparan primer (Np) 2000 dan kumparan sekunder (Ns) 500, berapakah arus primer dan arus sekunder jika digunakan untuk menyalakan sebuah pemanas 25 Volt 50 Watt.


Pembahasan
Jawaban No 1
Pembahasan
Kegunaan dari Transformator (trafo) secara umum adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan bolak-balik (AC).

Jawaban No 2
Pembahasan
Jenis transformator berdasarkan fungsinya
a.Trafo step-up
Trafo ini digunakan untuk menaikkan tegangan.
Ciri2nya: Lilitan sekunder (lilitan yang ada pada output/keluaran trafo) lebih banyak dari pada lilitan primer (lilitan yang ada pada input/masukan trafo).Tegangan sekunder lebih besar dari tegangan primer.
b.Trafo step-down
Trafo step-down adalah jenis trafo yang paling sering digunakan pada catu daya karena berfungsi untuk menurunkan tegangan .Ciri2nya: Lilitan sekunder lebih sedikit dari lilitan primer
Tegangan sekunder lebih kecil dari tegangan primer.

Jawaban No 3
Pembahasan
Jenis trafo catu daya
a.Trafo engkel
Trafo ini hanya punya besar keluaran tegangan yang hanya satu macam ditambah tegangan nol.
b.Trafo CT
Adalah trafo yang mempunyai besar keluaran yang bejumlah dua atau bepasangan (6 dgn 6) selain itu trafo ini punya ujung CT.

Jawaban No 4
Pembahasan :
Np / Ns = Vp / Vs
4400/ Ns = 220 / 10
Ns = 4400 / (220 /10 )
Ns = 4400 / 22
Ns = 200
Jadi untuk menghasilkan tegangan output (Vs) sekunder 10V, kumparan sekunder (Ns) harus 200 lilitan
Jawaban No 5
Pembahasan :
Pp = Ps
Vp x Ip = Vs x Is
Is = Ps / Vs
Is = 50 / 25
Is = 2
Jadi arus sekunder (Is) trafo tersebut adalah 1 Ampere
Np / Ns = Is / Ip
Np / Ns = (Ps / Vs) / Ip
2000 / 500 = (50 / 25) / Ip
4 = 2 / Ip
Ip = 2 / 4
Ip = 0.5
atau
Np / Ns = Is / Ip
2000 / 500 = 2 / Ip
4 = 2 / Ip
Ip = 2 /4
Ip = 0.5 Jadi Arus Primer (Ip) adalah 0.5 Ampere.



Thursday, July 11, 2013

Resistor

Posted by heri On 7:26 PM No comments






RESISTOR




STANDAR KOMPETENSI
Kemampuan menyerap pengetahuan dan mengkomunikasikan  serta menerapkan hal-hal yang berkaitan dengan arus listrik dalam kehidupan sehari-hari
KOMPETENSI DASAR
Kemampuan mengidentifikasi komponen elektronika dan kegunaanya
INDIKATOR PEMBELAJARAN
1.Menjelaskan nama-nama komponen elektronika
2.Mengidentifikasi komponen elektronika
3.Menganalisis satuan ukuran yang terdapat pada komponen elektronika
4.Mendeskripsikan pemanfaatan komponen dalam praktik
TUJUAN PEMBELAJARAN
1.Peserta didik dapat menyebutkan macam-macam resistor, satuan dan fungsinya
2.Peserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja resistor
2.Pesrta didik dapat menyebutkan bahan-bahan yang digunakan pembuatan resistor
3.Peserta Didik dapat menggambarkan simbol resistor
4.Peserta didik dapat menghitung nilai resistor dengan kode warna
5.Peserta didik dapat menguji kondisi resistor dengan alat ukur yang tepat.
6.Peserta didik dapat mengetahui aplikasi resistor dalam rangkaian

A. Pengertian Resistor
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi atau menghambat arus listrik yang melewatinya dalam suatu rangkaian.
Resistor disimbulkan dengan huruf  R. dan mempunyai satuan ohm, resistor ditemukan pada tahun 1787 oleh seorang ahli fisika yang bernama George Ohm dari bangsa jerman.
Hubungan antara hambatan, tegangan, dan arus, dapat disimpulkan melalui hukum berikut ini, yang terkenal sebagai hukum Ohm:

dimana :
V = beda potensial (Volt)
I = Arus (ampere)
R=Resistansi(Ohm)




sumber simulasi : http://pliki.edukator.pl/t_kulinowski/PHET_SWF/ohms-law.swf

B. Simbol Resistor 















C. Fungsi Resistor
1.Menghambat arus listrik
2.Pembagi tegangan
3.Pengatur volume (potensiometer)
4.Pengatur kecepatan motor (rheostat)
5.Dll tergantung disain komponenJenis-jenis Resistor

D. Jenis-jenis resistor
Dilihat dari fungsinya, resistor dapat dibagi menjadi : 
1. Resistor Tetap
Resistor tetap merupakan resistor yang mempunyai nilai hambatan tetap. Biasanya terbuat dari karbon, kawat atau panduan logam. Pada resistor tetap nilai Resistansi biasanya ditentukan dengan kode warna sebagai berikut.
Yang termasuk resistor jenis ini adalah :
a. Resistor kawat
Resistor kawat adalah jenis resistor generasi pertama yang lahir pada saat rangkaian elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Bentuknya bervariasi dan memiliki ukuran yang cukup besar. Resistor kawat ini biasanya banyak dipergunakan dalam rangkaian power karena memiliki resistansi yang tinggi dan tahan terhadap panas yang tinggi. Jenis lainnya yang masih dipakai sampai sekarang adalah jenis resistor dengan lilitan kawat yang dililitkan pada bahan keramik, kemudian dilapisi dengan bahan semen. Rating daya yang tersedia untuk resistor jenis ini adalah dalam ukuran 1 watt, 2 watt, 5 watt, dan 10 watt. Ilustrasi dari resistor kawat dapat dilihat pada gambar di samping.








b. Resistor batang karbon (arang)
Pada awalnya, resistor ini dibuat dari bahan karbon kasar yang diberi lilitan kawat yang kemudian diberi tanda dengan kode warna berbentuk gelang dan pembacaannya dapat dilihat pada tabel kode warna. Jenis resistor ini juga merupakan jenis resistor generasi awal setelah adanya resistor kawat. Sekarang sudah jarang untuk dipakai pada rangkaian – rangkaian elektronika. Bentuk dari resistor jenis ini dapat dilihat pada gambar di samping.





c. Resistor keramik atau porselin
Resistor ini terbuat dari  keramik yang dilapisi dengan kaca tipis. Jenis resistor ini telah banyak digunakan dalam rangkaian elektronika saat ini karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar di samping.








d. Reistor Film karbon
Resistor ini dibuat dari bahan karbon dan dilapisi dengan bahan film yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Nilai resistansinya dicantumkan dalam bentuk kode warna. Resistor ini juga sudah banyak digunakan dalam berbagai rangkaian elektronika karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Namun, untuk masalah ukuran fisik, resistor ini masih kalah jika dibandingkan dengan resistor keramik. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar di samping.





e. Resistor film Metal
Resistor film metal dibuat dengan bentuk hampir menyerupai resistor film karbon. Resistor tahan terhadap perubahan temperatur. Resistor ini juga memiliki tingkat kepresisian yang tinggi karena nilai toleransi yang tercantum pada resistor ini sangatlah kecil, biasanya sekitar 1% atau 5%. resistor film metal ini memiliki 5 buah gelang warna, bahkan ada yang 6 buah gelang warna. Sedangkan, resistor film karbon hanya memiliki 4 buah gelang warna. Resistor film metal ini sangat cocok digunakan dalam rangkaian – rangkaian yang memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, seperti alat ukur. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar di samping.











2. Resistor Variabel
Resistor variabel (variable resistor atau varistor) adalah resistor yang nilai tahanannya dapat berubah atau dapat diubah.
Ada bermacam-macam resistor variabel antara lain :
a. Potensiometer
Adalah resistor tiga terminal yang nilai tahanannya dapat diubah dengan cara menggeser (untuk potensio jenis geser) atau memutar (untuk potensio jenis putar) tuasnya.










b.Trimpot
Adalah potensiometer yang cara mengubah nilai tahanannya dengan cara mentrim dengan menggunakan obeng trim.











c. PTC (Positif Temperature Control)
PTC termasuk jenis thermistor, yaitu resistor yang nilai tahanannya dipengaruhi oleh suhu. Nilai hambatan PTC saat dingin adalah sangat rendah, tetapi saat suhu PTC naik maka nilai hambatannya juga ikut naik.
d. NTC (Negative Temperature Control)
NTC juga termasuk jenis thermistor, yaitu resistor yang nilai tahanannya dipengaruhi oleh suhu, tetapi NTC kebalikan dari PTC, dimana nilai tahanan NTC saat dingin sangat tinggi, tetapi saat suhu NTC semakin naik, maka nilai tahanannya akan semakin mengecil bahkan nol.











e. LDR (Light Depending Resistor)
LDR adalah merupakan resistor peka cahaya atau biasa disebut dengan fotoresistor, dimana nilai resistansinya akan menurun jika ada penambahan intensitas cahaya yang mengenainya.








f. VDR (Voltage Dependent Resistor)
VDR adalah singkatan  dari Voltage Dependent Resistor, yaitu sebuah resistor tidak tetap yang nilai resistansinya akan berubah tergantung dari tegangan yang diterimanya. Sifat dari VDR adalah semakin besar tegangan yang diterima, maka nilai tahanannya akan semakin mengecil, sehingga arus yang melaluinya akan semakin besar. Dengan adanya sifat tersebut maka VDR akan sangat cocok digunakan sebagai stabilizer bagi komponen transistor.











E. Cara membaca dan mengukur resitor resistor
A.Berdasarkan Kode Warna Resistor
Untuk mengetahui berapa besar nilai resistan (hambatan) sebuah resistor tetap, maka kita dapat melihat dan membaca kode warna yang berupa cincin-cincin warna pada bodi resistor. Karena tidak semua nilai resistor dicantumkan dengan lambang bilangan berupa angka-angka, melainkan dengan cincin kode warna. Banyaknya cincin kode warna setiap resistor berjumlah 4 cincin atau ada juga  5 cincin bahkan lebih. Untuk cara pembacaannya tidak jauh berbeda yaitu :
1.Resistor yang mempunyai 4 cincin, artinya cincin 1 dan 2 adalah nilai angka atau digit, cincin ke 3 adalah faktor pengali banyaknya (0), sedangkan cincin ke 4 adalah besarnya toleransi.
2.Resistor dengan 5 cincin warna, artinya cincin 1, 2, dan 3 adalah niali angka atau digit, cincin ke 4 adalah faktor pengali( banyaknya 0), sedangakan cincin ke 5 menunjukan besarnya toleransi.
3.Resistor dengan 6 cincin warna, artinya cincin 1, 2, dan 3 adalah niali angka atau digit, cincin ke 4  faktor pengali (banyaknya 0), cincin ke 5 besarnya toleransi, sedangkan cincin ke 6 koefisien temperatur. Untuk lebih jelas mengenai kode warna tersebut, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel kode warna 


  

















Sumber Animasi : http://met.open.ac.uk/group/jwl/info/resistor.swf
1.Cara ukur resistor 4 pita:
 
pita ke-1 = merah = 2 (nilai digit ke-2)
pita ke-2 = coklat = 1 (nilai digit ke-1)
pita ke-3 = kuning = 1k = 1000 (faktor pengali)
pita ke-4 = hijau = 0,5 % (toleransi)
arti nya   21 x 1000 ± 0,5% = 21.000 ± 0,5%
r maks = 21.000  + (0,5% x 21.000) = 21.105 ?
r min = 21.000 – (0,5% x 21.000) = 20.895 ?
2.Cara ukur resistor 5 pita :
 
pita ke-1 = hijau = 5 (nilai digit ke-2)
pita ke-2 = hitam = 0 (nilai digit ke-1)
pita ke-3 = kuning= 4 (nilai digit ke-3)
pita ke-4 = merah = 100 (faktor pengali)
pita ke-5 = emas = 5% (toleransi)
hasil nya : 504 x 100 ± 5% = 50.400 ± 5%
r maks = 50.400 + (5% x 50.400) = 52.920 ?
r min = 50.400 – (5% x 50.400) = 47.880 ?
3.Cara ukur resistor 6 pita:
 
Pita ke-1 = UNGU = 7 (Nilai digit ke-2)
Pita ke-2 = HIJAU = 5 (Nilai digit ke-1)
Pita ke-3 = KUNING= 4 (Nilai digit ke-3)
Pita ke-4 = COKLAT = 10 (Faktor Pengali)
Pita ke-5 = COKLAT = 1% (Toleransi)
Pita ke-6 = MERAH = 50 ppm (Koefisien temperatur)
Hasil yang lebih rinci nya:
754 x 10 ± 1% = 50.400 ± 5%, 50 ppm
R maks = 7.540 + (1% x 7.540) = 7.615,4 ?
R min = 7.540  - (1% x 7.540) = 7464,6 ?
Dengan koefisien temperature 50 ppm.


sumber animasi : http://educypedia.karadimov.info/library/resistor.swf

B. Mengukur hambatan dengan Ohmmeter/Multimeter

Putar saklar jangkah pada posisi OHM (misalnya x1, x10 atau x1k) , kemudian kalibrasi dengan cara ujung kabel penyidik merah dan hitam disentuhkan dan lakukan zero seting (jarum menunjuk pada angka nol) dengan cara putar sekrup tombol nol dan putar pula tombol kontrol nol.

Cara mengukur Resistor
Cara mengukur Resistor bisa anda lihat pada gambar diatas. Hasil pengukuran, misalnya apabila jarum penunjuk menunjuk pada angka 4,5 ohm, sedang saklar jangkah kita posisikan pada x10 maka hasil pengukurannya adalah 4,5 x10 = 45 Ohm, jadi resistor yang kita ukur mempunyai hambatan 45 Ohm.

F. Mengetest kondisi  resistor

Cara Menguji Resistor
Walaupun komponen ini tidak memiliki kutub negatif dan positif tetapi dengan multimeter kita akan menguji kualitasnya. Tidak menutup kemungkinan adanya kerusakan yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya karena terbakar/korsleting karena tidak tahan menahan arus yang lebih besar dari nilainya.
Untuk mengujinya dengan multimeter kita boleh membolak-balik kaki resistor ataupun sebaliknya membolak-balik colok (+) dan colok (-).
Langkah-langkah pemeriksaan resistor:
1.Memutar saklar sampai pada posisi R x Ohm.
2.Kalibrasi dengan menghubungkan colok (+) dan colok (-). Kemudian memutar penyetel sampai jarum menunjuk pada angka nol (0). Atau putar control adjusment untuk menyesuaikan.
3.Setelah itu kita hubungkan pencolok (+) pada salah satu kaki resistor, begitu pula colok (-) pada kaki yang lain.
4.Perhatikan jarum penunjuk. Apakah ia bergerak penuh atau sebaliknya jika bergerak dan tak kembali berarti komponen masih baik. Bila sebaliknya jarum penunjuk skala tidak bergerak berarti resistor rusak.
5.Komponen resistor yang masih baik juga bisa dinilai dengan sama atau tidak nilai komponen resistor yang tertera pada gelang-gelang warnanya dengan pengukuran melalui multimeter.

Daftar Pustaka
1.http://monaciiganna.blogspot.com
2.http://www.unhas.ac.id
3.http://rangkaianelektronika.info
4.http://januar-anas.blogspot.com
5.http://dr471e-electronics.com
6.http://dr471e-electronics.com
7.http://ilmutrik-tipsadribaraka.blogspot.com
8.http://budidayaukm.blogspot.com
9.http://dien-elcom.blogspot.com
10.http://opicnews.blogspot.com
11.http://komponenelektronika.net
12.http://shofiesalsabila.blogspot.com
13.http://openbookproject.net
14. Candra,Arifianto.2010.Jago Elektronika Rangkain sistem otomatis. Elek media Komputindo
15. Syarifudin Uyuk.2010.Elektronika 1. Yudhistra
16. MGMP Klaten. 2010.LKS Elektronika 1,2,3.Klaten. Sinar Mandiri

   




SOAL & PEMBAHASAN
1.Jelaskan kegunaan dari resistor
2.Sebutkan jenis-jenis resistor variabel
3.Sebutkan jenis-jenis resistor tetap
4.Resistor tetap mempunyai nilai tahanan 36 kilo ohm, toleransi 5%, jadi gelang kedua berwarna…
5.Sebuah resistor tetap mempunyai urutan cicncin warna orange, hitam, hijau, polos jadi resistor ini mempunyai nilai tahanan….ohm


Pembahasan
Jawaban No 1
A.Menghambat arus listrik
B.Pembagi tegangan
C.Pengatur volume (potensiometer)
D.Pengatur kecepatan motor (rheostat)
E.Dll tergantung disain komponenJenis-jenis Resistor

Jawaban No 2
A.Potensiometer
B.Trimpot
C.PTC (Positif Temperature Control)
D.NTC (Negative Temperature Control)
E.LDR (Light Depending Resistor)
F.VDR (Voltage Dependent Resistor)

Jawaban No 3
A.Resistor kawat
B.Resistor batang karbon (arang)
C.Resistor keramik atau porselin
D.Reistor Film karbon
E.Resistor film Metal

Jawaban No 4
Resistor tetap mempunyai nilai tahanan 36 kilo ohm, toleransi 5% : 3 = Oranye, 6 = biru, 1 kilo = oranye, 5% = emas Jadi gelang kedua berwarna biru

Jawaban No 5
Resistor tetap mempunyai urutan cicncin warna orange, hitam, hijau, polos jadi resistor ini mempunyai nilai tahanannya = Oranye = 3, hitam = 0, hijau = 100.000, polos = 20% Jadi nilai resistor = 30 x 100.000 = 3 M Ohm






Site search